Dalam memahami peran perempuan dalam mengenal
wawasan nusantara dan jati diri bangsa lebih dalam, diperlu
kan adanya tinjauan dari masa lalu. Oleh karenanya, pembe
lajaran sejarah dan masa lalu bangsa menjadi penting, karena
dari situlah wawasan nusantara dan jati diri bangsa berasal.
Salah satunya, dengan melihat perjuangan perempuan
pada masa kolonialisme maka akan memberikan gambaran
bagaimana kebijakan masa lalu maupun paradigma sebagi
an suku masih terbawa hingga sekarang. Oleh karenanya,
dengan mengetahui perjuangan dan perlakuan perempuan
di masa lalu dapat memberikan pembelajaran yang kemu
dian bisa memacu motivasi perempuan di masa kini untuk
merubah kebijakan maupun paradigma di masa lalu yang
dinilai mencederai hak perempuan.
Mengetahui dan memahami sejarah suatu bang
sa menjadikan bangsa tersebut lebih berhati hati di masa
yang akan datang. Dengan begitu bangsa itu tidak salah
langkah dalam mengambil tindakan maupun merumuskan
kebijakan-kebijakan. Mengamalkan serta melestarikan se
jarah yang ada menjadi implementasi paling mudah bagi
seluruh bangsa untuk menghargai perjuangan para pahla
wan terdahulu
implementasi peran
perempuan dalam nilai-nilai bela negara masuk dalam segala
bidang kehidupan. Walaupun terdapat persoalan tradisionil yang
menghambat, perempuan pedesaan banyak berperan dalam
menjalankan dan meningkatkan kehidupan keluarga dan
lingkungan pemukiman tapi perubahan melalui perkebangan
budaya masyarakat batas batas perempuan dan lelaki hampir
menipis. Peran Perempuan di lingkungan pendidikan dan
pekerjaan semakin meluas. Untuk itu berdasarkan Strategi
Pertahanan Negara (2015:138) SDM Perempuan merupakan aset
yang paling penting dalam usaha pertahanan negara. Kualitas
dan kuantitas SDM menentukan kekuatan pertahanan, disertai
dukungan teknologi pertahanan. SDM pertahanan militer dan
nirmiliter harus dilatih dan diperlengkapi dengan baik, memiliki
motivasi tinggi dan dengan kemampuan yang vital dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dalam rangka
pertahanan negara. Perempuan yang sudah terlatih dalam
pendidikan bela negara termasuk dalam kader intelektual bela
negara.
Implementasi peran perempuan dalam nilai-nilai bela negara masuk dalam segala
bidang kehidupan. Walaupun terdapat persoalan tradisionil yang
menghambat, perempuan pedesaan banyak berperan dalam
menjalankan dan meningkatkan kehidupan keluarga dan
lingkungan pemukiman tapi perubahan melalui perkebangan
budaya masyarakat batas batas perempuan dan lelaki hampir
menipis. Peran Perempuan di lingkungan pendidikan dan
pekerjaan semakin meluas. Untuk itu berdasarkan Strategi
Pertahanan Negara (2015:138) SDM Perempuan merupakan aset
yang paling penting dalam usaha pertahanan negara. Kualitas
dan kuantitas SDM menentukan kekuatan pertahanan, disertai
dukungan teknologi pertahanan. SDM pertahanan militer dan
nirmiliter harus dilatih dan diperlengkapi dengan baik, memiliki
motivasi tinggi dan dengan kemampuan yang vital dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dalam rangka
pertahanan negara. Perempuan yang sudah terlatih dalam
pendidikan bela negara termasuk dalam kader intelektual bela
negara.
Pengertian kader Intelektual Bela Negara jika diuraikan
secara etimologi (asal usul kata) merujuk kepada Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan:orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya. Intelektual dapat diartikan cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan Bela adalah menjaga baik-baik, memelihara.
Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat.
Dari beberapa konsep di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa Kader Intelektual Bela Negara dapat diartikan secara luas
adalah semua warga negara yang menjadi calon pemimpin
negara, sedangkan diartikan secara sempit adalah semua
mahasiswa/i yang dididik dan dilatih untuk mendapatkan
pengetahuan (knowledge) tentang isu pertahanan dan bela
negara, kajian strategis, kebijakan negara, diwujudkan dalam
sikap (attitude) berupa disiplin diri, loyalitas dan memilki
keterampilan (skill) khusus berupa manajemen dan leadership
berwawasan kebangsaan Indonesia. Jadi kader intelektual bela
negara adalah orang yang diharapkan akan memegang peran
yang penting dalam pemerintahan, partai, kemasyarakatan dan
sebagainya (Ninda, 2018).
Serangkaian proses pencapaian kualitas perpustakaan
yaitu kualitas input perpustakaan, prosesnya dan outcomenya.
Ketiganya menjadi dimensi penentu. Secara logis proses
pencapaian kualitas perpustakaan adalah input disertai kesiapan
mental, adanya proses layanan yang didukung dan disesuaikan
dengan kebutuhan pengguna serta menghasilkan outcome yang
berkualitas sebagai produk dari rangkaian proses sebelumnya.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan Perpustakaan
dalam meningkatkan kualitas mahasiswa sebagai kader
Intelektual Bela Negara dimasa mendatang. Output yang
diharapkan daripelatihan kader perempuan bela negara adalah
menjadi kader intelektual bela negara yang memiliki pengetahuan
(Knowledge) sesuai dengan KKNI level 7 dan menguasai Ilmu
Bela Negara dan memberi contoh dilingkungan kelompoknya,
pemuda dan masyarakat pedesaan di Indonesia.
Kader Intelektual Bela Negara dapat diartikan secara luas
adalah semua warga negara yang menjadi calon pemimpin
negara, sedangkan diartikan secara sempit adalah semua
perempuan yang telah dilatih dan didik untuk mendapatkan
pengetahuan (knowledge) tentang isu pertahanan dan bela
negara, kajian strategis, kebijakan negara, diwujudkan dalam
sikap (attitude) berupa disiplin diri, loyalitas dan memilki
keterampilan (skill) khusus berupa manajemen dan leadership
berwawasan kebangsaan Indonesia. Jadi kader intelektual bela
negara adalah orang yang diharapkan memegang peran yang
penting dalam masyarakat adat, petani, nelayan, pemerintahan,
partai, ormas dan sebagainya. Proses Habitus (inculcation
Process) atau istilah peneliti adalah proses pengkaderan
fasilitotor perempuan bela negara dalam era informasi. Laksmi
Budaya informasi atau culture of knowledge rasa ingin tahunya
tinggi. Budaya Informasi yang dimaksud adalah adanya proses
budaya informasi dalam konteks membangun karakter bangsa
berkualitas sebagai produk dari rangkaian proses sebelumnya.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan Perpustakaan
dalam meningkatkan kualitas mahasiswa sebagai kader
Intelektual Bela Negara dimasa mendatang. Output yang
diharapkan daripelatihan kader perempuan bela negara adalah
menjadi kader intelektual bela negara yang memiliki pengetahuan
(Knowledge) sesuai dengan KKNI level 7 dan menguasai Ilmu
Bela Negara dan memberi contoh dilingkungan kelompoknya,
pemuda dan masyarakat pedesaan di Indonesia.
Kader Intelektual Bela Negara dapat diartikan secara luas
adalah semua warga negara yang menjadi calon pemimpin
negara, sedangkan diartikan secara sempit adalah semua
perempuan yang telah dilatih dan didik untuk mendapatkan
pengetahuan (knowledge) tentang isu pertahanan dan bela
negara, kajian strategis, kebijakan negara, diwujudkan dalam
sikap (attitude) berupa disiplin diri, loyalitas dan memilki
keterampilan (skill) khusus berupa manajemen dan leadership
berwawasan kebangsaan Indonesia. Jadi kader intelektual bela
negara adalah orang yang diharapkan memegang peran yang
penting dalam masyarakat adat, petani, nelayan, pemerintahan,
partai, ormas dan sebagainya. Proses Habitus (inculcation
Process) atau istilah peneliti adalah proses pengkaderan
fasilitotor perempuan bela negara dalam era informasi. Laksmi
Budaya informasi atau culture of knowledge rasa ingin tahunya
tinggi. Budaya Informasi yang dimaksud adalah adanya proses
budaya informasi dalam konteks membangun karakter bangsa
dan bela negara yang secara khusus berupa informasi-informasi
relevan bagi perempuan pedesaan yang nantinya di sertifikasi
sebagai kader intelektual bela negara.
Pelatihan Kementerian PPPA penting dikembangkan
dalam rangka pembangunan karakter bangsa sebagai bagian dari
revolusi mental diselenggarakan melalui pembinaan kesadaran
dan kemampuan bela negara bagi setiap warga negara Indonesia
untuk menyiapkan sumber daya manusia pertahanan negara,
serta penguatan jati diri bangsa yang berkepribadian dan
berkebudayaan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana
diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2015 tentang
Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2015-2019.
Kemudian Modul ini sejalan dengan Peraturan Menteri
Pertahanan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2016 Tentang
Pedoman Pembinaan Kesadaran Bela Negara. Indikator-indikator
Kesadaran Bela negara dapat diwujudkan dalam kehidupan
Perempuan pedesaan. Secara umum diharapkan meningkatkan
kualitas dan kuantitas Kader Intelektual Bela Negara. Bourdieu
(1993: 315) bahwa proses pencerdasan masyarakat adalah
proses produksi budaya. Proses budaya melalui perpustakaan
sebagai arena pendidikan. Karena menurut bourdeiu, hanya
Hanya melalui metode-metode pendidikan yang baik
menghasilkan masyarakat yang cerdas. Nilai-nilai bela negara
diawali dengan adanya persepsi para pendiri Unhan berdasarkan
fakta sejarah, mereka mempraktikkan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara sebagai pemimpin dan tokoh-tokoh
pada level strategis, kemudian para tokoh tersebut membentuk
struktur dalam hal ini membangun Unhan. yang salah satu
misinya adalah mencetak para pemimpin melalui proses
pengkaderan yaitu sebagai kader intelektual bela negara, yang
membangun jaringan diseluruh Indonesia. Salah satu metodenya
adalah menanamkan nilai-nilai bela negara bagaimana
mahasiswa agar cinta kepada tanah airnya, kemudian menyadari
bahwa mereka berbangsa dan bernegara, meyakini pancasila
sebagai ideologi negara, sampai kepada kerelaannya membela
bangsa dan negara dengan memiliki kemampuan awal bela
negara. Dengan harapan nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan
kekehidupan dimana mereka berada baik dilingkungan keluarga,
lingkungan pekerjaan, maupun lingkungan masyarakat.
