Category: Artikel

Berikut hasil pencarian Anda. Jika Anda tidak menemukan yang Anda cari, coba gunakan kata kunci lain

Admin DP3APPKB

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS)

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) adalah payung hukum komprehensif yang mengatur pencegahan, penanganan, perlindungan, dan pemulihan korban kekerasan seksual di Indonesia.  Berikut adalah poin-poin utama UU TPKS: 1. Jenis Tindak Pidana Kekerasan Seksual  Pasal 4 UU TPKS menetapkan sembilan jenis tindak pidana kekerasan seksual yang mencakup:  2. Hak-Hak Korban UU ini menjamin tiga hak utama bagi korban, yaitu:  3. Terobosan Penting

mencetak manusia berkarakter

Sekolah bisa mencetak murid pandai, tapi tidak semua bisa mencetak manusia berkarakter. Banyak orang tua berharap anaknya menjadi pintar dengan menyekolahkannya di tempat terbaik, namun lupa bahwa pendidikan sejati pertama-tama tumbuh dari rumah. Rumah adalah “sekolah pertama”, dan orang tua adalah “guru pertama” yang paling berpengaruh. Psikolog Albert Bandura melalui teori social learning menegaskan bahwa anak belajar terutama dengan cara meniru, bukan sekadar mendengar nasihat. Artinya, anak tidak hanya menyerap apa yang dikatakan, tapi juga apa yang dilakukan orang tuanya setiap hari. Seorang ayah yang berkata “jangan marah” sambil berteriak sedang menunjukkan kontradiksi logis di depan mata anaknya. Anak mungkin tidak bisa menjelaskan paradoks itu secara verbal, tapi otaknya merekam inkonsistensi itu sebagai sesuatu yang “normal”. Di sinilah kekuatan keteladanan bekerja: anak lebih percaya pada apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. 1. Rumah adalah ruang pertama anak belajar konsistensi Anak-anak sangat peka terhadap pola perilaku yang diulang. Ketika ayahnya setiap pagi membaca buku tanpa disuruh, ia belajar bahwa kebiasaan baik tidak butuh paksaan. Ketika ibunya selalu meminta maaf setelah bersalah, ia belajar bahwa rendah hati bukan tanda kelemahan. Pola sederhana seperti itu membentuk dasar berpikir anak tanpa perlu ceramah panjang. Masalah muncul ketika rumah justru menjadi tempat inkonsistensi. Misalnya, orang tua melarang anak bermain gawai tapi terus sibuk dengan ponselnya sendiri. Anak belajar bahwa larangan hanyalah kata, bukan prinsip. Konsistensi kecil setiap hari lebih mendidik daripada nasihat bijak yang diulang-ulang tanpa contoh. 2. Nilai moral tidak diwariskan, tapi diteladankan Orang tua sering mengira nilai moral bisa diturunkan begitu saja. Padahal, moral tidak bekerja seperti gen. Ia terbentuk dari lingkungan yang memberikan pengalaman konkret. Seorang anak yang tumbuh di rumah penuh empati akan belajar memahami emosi orang lain jauh lebih cepat dibanding anak yang hanya diberi ceramah tentang “menjadi baik”. Dalam konteks ini, pendidikan moral adalah hasil dari interaksi harian. Ketika anak melihat ibunya menolong tetangga tanpa pamrih, ia belajar tentang kemanusiaan tanpa perlu didefinisikan. Di sinilah keteladanan menjadi bentuk pendidikan paling halus namun paling kuat. 3. Bahasa perilaku lebih keras dari kata-kata Anak-anak tidak mendengar kata, mereka membaca tindakan. Ketika ayah menepati janji kecil, anak belajar arti tanggung jawab. Ketika ibu menghargai perbedaan pendapat di meja makan, anak belajar menghormati perspektif. Semua itu menjadi “kamus nilai” yang akan ia bawa ke dunia luar. Sebaliknya, kata-kata kehilangan makna jika tidak didukung perilaku. Larangan untuk berbohong akan terasa hambar jika anak tahu orang tuanya sering berbohong pada hal-hal kecil. Di sini, logika anak bekerja sangat tajam: “Mengapa orang dewasa boleh, tapi aku tidak?” Maka pendidikan moral gagal bukan karena anak tidak mau belajar, tapi karena mereka belajar terlalu cepat dari realitas yang salah. 4. Keteladanan mengajarkan logika kehidupan yang konkret Anak-anak belajar berpikir logis melalui hubungan sebab-akibat yang mereka lihat sehari-hari. Ketika orang tua marah tapi kemudian meminta maaf, anak belajar bahwa emosi bisa dikelola dan hubungan bisa diperbaiki. Itu logika kehidupan yang tidak diajarkan di buku pelajaran. Pendidikan di rumah membentuk nalar moral, bukan hanya nalar akademik. Anak belajar bahwa tindakan punya konsekuensi, bahwa setiap keputusan punya dampak. Dari situlah lahir karakter tangguh: bukan karena hafal teori etika, tapi karena paham keterhubungan antara perilaku dan akibatnya. 5. Keteladanan menumbuhkan rasa aman emosional Sebelum anak belajar logika, ia belajar rasa aman. Keteladanan menciptakan stabilitas emosional yang membuat anak berani bereksperimen, mencoba, dan gagal tanpa takut dihakimi. Dalam psikologi perkembangan, ini disebut secure attachment, landasan semua bentuk pembelajaran sehat. Rumah yang penuh keteladanan membuat anak merasa bahwa nilai-nilai yang diajarkan bukan perintah, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari sinilah tumbuh keberanian berpikir dan berpendapat. Di tengah pembahasan ini, jika kamu ingin memperdalam pemahaman tentang bagaimana logika dan emosi bekerja dalam pendidikan keluarga, kamu bisa menemukan banyak analisis eksklusifnya di Inspirasi filsuf ruang bagi mereka yang ingin berpikir lebih dalam tanpa kehilangan kehangatan manusiawi. 6. Keteladanan orang tua adalah bentuk logika hidup yang paling jujur Anak belajar berpikir dari pengalaman yang nyata, bukan teori abstrak. Saat ayahnya berkata “kita harus jujur” lalu benar-benar mengembalikan uang kembalian yang lebih, anak melihat bahwa logika etika bukan sekadar kata. Ia nyata dan bisa dipraktikkan. Dari sinilah lahir manusia yang memahami bahwa logika dan moral tidak bisa dipisahkan. Anak belajar berpikir dengan hati, dan merasa dengan pikiran. Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam pendidikan formal yang hanya menekankan kognitif tapi melupakan emosi. 7. Keluarga adalah cermin kecil dari masyarakat yang ideal Jika rumah mengajarkan disiplin, empati, dan tanggung jawab, maka anak membawa nilai-nilai itu ke ruang sosial. Sebaliknya, jika rumah penuh kekerasan dan kebohongan, anak pun belajar bahwa dunia adalah tempat yang tidak adil. Dari rumahlah gambaran tentang dunia terbentuk. Pendidikan keluarga bukan sekadar membentuk pribadi baik, tetapi membangun generasi berpikir jernih dan berhati lembut. Dunia yang beradab dimulai dari rumah yang mendidik dengan keteladanan. Karakter anak tidak dibentuk dari banyaknya nasihat, tapi dari seringnya melihat kebaikan di rumahnya sendiri. Setujukah kamu bahwa pendidikan terbaik justru dimulai dari meja makan dan ruang tamu kita sendiri? Tulis pandanganmu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang tua menyadari bahwa keteladanan adalah inti dari pendidikan sejati.

Menjadi seorang ayah

“Menjadi seorang ayah bukan hanya tentang menulis cek atau membayar tagihan. Ini tentang hadir, hadir di sana, dan hidup dengan integritas. Menyediakan kebutuhan finansial itu penting, tetapi itu tidak menghapus kerusakan yang disebabkan oleh kebohongan, perselingkuhan, dan kepercayaan yang dikhianati. Anak-anak Anda membutuhkan lebih dari sekadar penyedia; mereka membutuhkan panutan. Mereka melihat bagaimana Anda memperlakukan ibu mereka, bagaimana Anda menangani tanggung jawab, dan bagaimana Anda menepati janji-janji Anda. Jika Anda tidak setia, Anda mengajarkan mereka bahwa kesetiaan dan rasa hormat adalah pilihan. Apakah itu warisan yang ingin Anda tinggalkan? Seorang pria yang mengkhianati keluarganya tidak hanya mengkhianati pasangannya… ia mengkhianati stabilitas dan keamanan yang layak diterima anak-anaknya. Tidak ada jumlah uang yang dapat menyembuhkan luka emosional yang tertinggal. Dukungan finansial tanpa integritas moral adalah hampa. Itu membuat lampu tetap menyala tetapi meredupkan cahaya di hati keluarga Anda. Menjadi ayah yang baik berarti lebih dari sekadar menyediakan barang-barang materi. Itu berarti memberikan contoh kejujuran, kesetiaan, dan cinta. Ini tentang membangun fondasi tempat anak-anak Anda dapat berdiri…. fondasi yang tidak akan runtuh di bawah beban pengkhianatan. Jangan hanya menyediakan kebutuhan keluarga Anda. Lindungi. Hormatilah. Jadilah pria yang layak dikagumi anak-anak Anda. Karena pada akhirnya, karakter Anda lebih berharga daripada gaji Anda.

Internet di Tangan Ibu Bagai Belati Bermata Dua

Perkembangan teknologi informasi pada masa kini memungkinkan kita mengerjakan banyak hal hanya dari rumah. Transfer dari rekening pribadi ke rekening lain bisa dilakukan hanya dari smartphone. Tak hanya ke rekening pribadi, tetapi juga ke rekening pembayaran elektronik di e-commerce. Dengan ponsel, kita bisa memilih barang belanjaan, membayar, sampai menerima barang tersebut tanpa beranjak dari rumah. Di dunia pendidikan, ada kampus luar negeri yang menerima mahasiswa dari negara lain untuk belajar melalui internet. Pun e-learning atau kursus untuk aneka bidang seperti public speaking, Bahasa Inggris, hingga pendidikan berkelanjutan untuk bidan dan perawat. Berkuliah saat ini bisa dilakukan dari rumah, melalui materi atau video yang bisa diakses para pendaftarnya. Mudahnya lagi, ada kursus yang bisa dijalani via Whatsapp, BBM, Line, atau Skype. Ditambah dengan aneka informasi yang edukatif dan merangsang produktivitas dan kreativitas, semua hal ini sangat menguntungkan bagi kaum ibu yang sulit mobile dalam kehidupan sehari-hari. Asalkan pandai menggunakan smartphone atau laptop, banyak sekali hal positif yang bisa dilakukannya dari dalam rumahnya sendiri. Pada 2016, Internet digunakan oleh lebih dari separuh penduduk Indonesia–sebesar 132, 7 juta orang dari 256,2 juta penduduk Indonesia. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan, dari komposisi pengguna internet Indonesia, profesi ibu rumah tangga mencakup 16,6 persennya atau 22 juta orang, meningkat 8 juta orang dari hasil survei tahun 2014. Andai internet digunakan untuk hal-hal positif, akan ada banyak hal baik yang bisa “ditularkan” dari satu ibu rumah tangga kepada yang lainnya. Penulis berteman dengan banyak ibu rumah tangga pengguna internet. Selain saling membagikan hal positif seperti informasi, ada hal-hal positif lain yang bisa dilakukan. Misalnya ketika seorang selebritas muda menggunakan kata “autis” untuk olok-olok, Andy Hardiyanti menulis di blognya tentang etika seputar penggunaan kata ini, sekaligus mengimbau sang selebritas agar mengoreksi dirinya. Tulisan yang lalu ia bagikan lewat akun media sosial miliknya dan menjadi viral setelah kawan-kawannya turut membagikan tulisan tersebut. Mengharapkan si selebritas muda itu memperbaiki dirinya, saya ikut membagikan tulisan tersebut lewat Twitter dengan me-mention akunnya. Tak hanya sekali saya melakukan hal serupa itu. Kali lainnya adalah ketika seorang lelaki bunuh diri dan menayangkannya secara live via video Facebook beberapa bulan lalu. Ketika itu, ada program acara infotainment yang mengait-ngaitkannya dengan istri sang pelaku bunuh diri. Tragisnya, acara ini menayangkan foto suami-istri itu dengan hanya memburamkan wajah sang suami, sementara wajah istrinya beserta nama lengkapnya ditayangkan dengan gamblang. Penulis mengunggah kritik terhadap stasiun televisi dan rumah produksi yang membuat acara itu, tak lupa me-mention akun Twitternya resmi stasiun televisi dan rumah produksi yang bersangkutan. Beberapa kawan, yang juga ibu rumah tangga, membantu menyebarkannya. Harapannya, tayangan itu tidak dibuat lagi sekuelnya. Hal-hal tersebut hanya contoh kecil yang bisa dilakukan para ibu rumah tangga dalam berinternet. Banyak hal sederhana namun positif lain yang bisa kita lakukan di internet, misalnya mencontohkan sikap santun dalam berinternet agar ditiru oleh anak-anaknya, tidak saling menyerang pendapat yang berbeda, atau menyebarkan ucapan kebencian lewat media sosial. Setiap pendidikan yang ibu tanamkan kepada anak-anaknya kelak akan berpengaruh bagi masa depan bangsa ini. Anak-anak kita akan meniru hal baik maupun buruk yang kita lakukan, termasuk saat kita berselancar di internet. Jika hal-hal buruk yang ibu lakukan, maka rekam jejaknya lambat laun akan bisa diketahui oleh keluarga maupun anak-anak kita. Internet di tangan ibu bagai belati bermata dua, maka ingatlah untuk selalu menggunakannya untuk kebaikan. (mm)

Dorong Kemandirian Anak Sejak Dini Melalui Buku “Bisa Tidak Ya?”

Dorong Kemandirian Anak Sejak Dini Melalui Buku “Bisa Tidak Ya?” Siaran Pers Nomor: B- 301 /SETMEN/HM.02.04/10/2024   Jakarta (4/10) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), dan Tanoto Foundation hari ini meluncurkan buku cerita bergambar berjudul “Bisa atau Tidak Ya?”. Peluncuran buku ini bertujuan meningkatkan literasi, mengedukasi orang tua dan anak mengenai pentingnya menumbuhkan kemandirian pada anak sejak usia dini. “Kami mengapresiasi kolaborasi ini. Harapannya, buku ini tidak hanya memberikan informasi yang layak bagi anak-anak, tetapi juga membangun karakter kemandirian yang akan membantu mereka menjadi pribadi yang cerdas, berkualitas, dan berdaya saing. Dengan demikian, mereka dapat menjadi generasi emas sesungguhnya pada 2045 mendatang,” ujar Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Pendidikan Kemen PPPA, Amurwani Dwi Lestariningih. Amurwani menjelaskan buku ini memberikan contoh ketauladanan bagi anak untuk pembentukan karakter sejak dini. Kemandirian adalah salah satu karakter yang penting. Belajar mandiri juga merupakan hak anak yang dijamin oleh negara. Proses belajar mandiri melalui pembiasaan sehari-hari dengan mengerjakan hal-hal kecil dapat membantu anak-anak menjadi pribadi yang cerdas, kuat, dan percaya diri. Selain itu, melalui buku ini, hak anak untuk mendapatkan informasi yang layak dan pendidikan yang terbaik dapat terpenuhi. “Kami mengajak seluruh keluarga untuk meluangkan waktu membaca bersama anak-anak dan menerapkan pelajaran dari buku ini dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Amurwani. Direktur Pendidikan Usia Dini Kemenbudristek, Komalasari menekankan usia 0-6 tahun adalah periode krusial bagi anak untuk belajar dan membentuk potensi dasar, termasuk kemandirian. “Menanamkan kemandirian sejak dini berkontribusi dalam meningkatkan kepercayaan diri dan resiliensi anak, yang merupakan bekal penting bagi masa depan mereka,” ujar Komalasari. Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margareth Ari Widowati mengatakan buku “Bisa atau Tidak Ya?” menjadi salah satu wujud nyata dari kampanye tentang pentingnya menumbuhkan kemandirian pada anak sejak usia dini. “Buku ini merupakan bagian penting dari perawatan diri dan fondasi utama bagi anak usia dini. Otak anak menyerap berbagai macam informasi, mulai dari warna, bentuk, hingga interaksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, buku cerita bergambar dapat menjadi sarana edukasi yang menyenangkan bagi mereka,” tambah Margareth. Data Tanoto Foundation menunjukkan 51,2% balita di Indonesia belum memiliki buku cerita dan 56,5% orang tua belum pernah membacakan cerita untuk anak-anak mereka. Melalui buku “Bisa atau Tidak Ya?”, diharapkan orang tua dapat lebih terlibat dalam mendidik anak-anak mereka dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Buku “Bisa atau Tidak Ya?” merupakan bagian dari kampanye petualangan menuju kemandirian, yang bertujuan untuk meningkatkan literasi sejak dini dan mendukung transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD). Diharapkan, buku ini menjadi pilihan edukasi yang tepat untuk anak-anak usia 0-6 tahun dan berkontribusi dalam membangun generasi emas Indonesia.  

Anak Sering Jadi Korban Kalau Ibu Tertekan Dan Banyak Pikiran

Anak Sering Jadi Korban Kalau Ibu Tertekan Dan Banyak Pikiran Jadi, harus paham bahwa menyenangkan istri artinya menyelamatkan anak-anak, secara jangka pendek maupun jangka panjang. Anak baik akhlaknya, cerdas, bertanggung jawab, semua biidznillah ada di bawah pengaruh didikan seorang ibu. Suami harus banyak bersyukur kalau punya istri yang banyak beban hidup tapi dia masih Allah karuniakan kewarasan saat mengurus anak-anaknya. Bantu kurangi beban bukan malah nambahin beban. Bersyukur itu bukan cuma di mulut, dibuktikan dengan meningkatkan perhatian pada istri. Tapi si istri ini sebagai pihak terdzalimi gak bisa bales, takut, ambil sikap hanya diam, menangis dalam hati, dan akhirnya melampiaskan ke pihak yang lebih lemah yaitu anak-anaknya. Parahnya lagi, orang gak sadar bahwa dari ucapan-ucapan ngasal alias asbun ternyata “sukses” menjadikan isi ibu seorang pembunuh anak-anaknya. Miris kan ya? Beban istri itu bukan cuma dari anak-anak aja. Anak rewel, anak sakit, Anak kondisi khusus, anak lebih dari satu, kelelahan lahir batin si Ibu setiap hari, lalu bisa jadi yang parahnya itu ditambah beban beban dari sikap suami, keadaan ekonomi yang sulit. Dan memang iya gak menutup mata bahwa banyak istri stres depresi itu karena tekanan biar terdekat pihak terdekat, seperti mertua, ipar, orang tua, tetangga dst. Dan saat udah terjadi kejahatan, orang dengan entengnya bilang; SI IBU YANG KURANG IMAN, SI IBU YANG BODOH, SI IBU YANG JAHAT dst dst… Semua menghakimi si Ibu. Tanpa mau mikir seperti apa beban hidupnya, siapa orang atau pihak dibalik si ibu yang lebih buruk imannya, yang lebih bodoh, yang lebih jahat hingga tega berkata-kata yang menyakiti hati si ibu tsb? Hingga mendorong si ibu berbuat hal yang buruk? Na’udzubillah. Kalau gak bisa dikasih kebaikan atau bantuan, mending diem. Gak bisa kasih kata-kata baik ya mending diem. Emang susah jadi ibu yang baik ya, terutama kalau banyak tekanan kanan kiri depan belakang. Harus tetap waras. Ingat Allah gak kasih beban diluar kesenggupan☺️ Laa hawla wa laaa quwwata Illa Billah…