Bengkulu Serius Tangani Stunting, Target Prevalensi Stunting 14% di tahun 2024.

Pemerintah Provinsi Bengkulu serius dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan angka stunting. Di mana ada 4 kabupaten yang menjadi fokus penanganan stunting pada tahun 2021 ini.
Penanganan stunting ini menjadi perhatian kita, karena ini menjadi kebijakan strategis nasional, khusus di Bengkulu ada 4 Kabupaten yang menjadi lokus, di Bengkulu Utara, Seluma, Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur,“ papar Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.
Apa sih stunting itu?
Stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Tapi ingat, stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting.
Kenapa stunting ini menjadi penting?
Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.
Lalu, bagaimana mengatasi stunting?
Satu hal yang harus di pahami bersama adalah stunting itu bisa diatasi untuk tidak menjadi stunting atau dikoreksi itu diseribu hari kehidupan pertama. Sehingga ketika bayi lahir sampai 2 tahun ini masih bisa dilakukan modifikasi, intervensi supaya tidak bisa menjadi stunting.
Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), stunting adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama.
Stunting menyebabkan perkembangan otak serta tumbuh kembang terhambat. Anak yang menderita stunting umumnya bertubuh lebih pendek dari anak pada umumnya. Stunting sendiri akan menyebabkan beragam dampak buruk untuk anak baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu sebagai mana dilansir pada http://bengkulu.bkkbn.go.id, bahwa kondisi kesehatan anak bawah lima tahun (balita) di Bengkulu cukup memprihatinkan. Pasalnya, kasus gizi buruk atau kekurangan gizi pada anak di Bengkulu cukup tinggi.
Dari total jumlah penduduk Provinsi Bengkulu pada 2020 sebanyak 2.010.670 jiwa terdapat sebanyak 228.801 post generasi zillenial ( SP 2020 ). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat stunting di Bengkulu sebesar 27,98 persen. Dengan angka tersebut menunjukkan 1 (satu) dari 3 (tiga) anak di Bengkulu menyandang stunting yang terdapat di sejumlah daerah kabupaten/kota.
Terkait Raker Penilaian Kinerja Kab/Kota Dalam Pelaksanaan Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting, Gubernur Rohidin meminta kepada para kepala daerah untuk serius dalam menangani permasalahan stunting ini. Di antaranya melalui program – program strategis kepala daerah.
“Kita harapkan melalui kegiatan ini penurunan angka stunting itu bisa betul – betul terjadi secara signifikan, di mana kepedulian dan tanggung jawab dari kepala daerah dengan program – program strategisnya melalui dinas kesehatan dan Bappeda, kemudian dana desa juga bisa digunakan, karena ini menyangkut masa depan generasi maka penting sekali,” tegas Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.
Adapun tujuan dari diadakannya Raker Penilaian Kinerja Kab/Kota Dalam Pelaksanaan Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Teritegritas Tahun 2021 Provinsi Bengkulu guna mengukur tingkat kinerja, akuntabilitas, evaluasi dan apresiasi terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam pelaksanaan 8 aksi konvergensi penurunan stunting.
Prevalensi balita stunting di Provinsi Bengkulu mengalami penurunan tiap tahun, yaitu dari 22,9 persen pada tahun 2016 menjadi 26,86 persen di tahun 2019. Sementara itu pada tahun 2017, persentasenya meningkat menjadi 29,4 persen.

Target Prevalensi Stunting mulai tahun 2024 Provinsi Bengkulu 14%, hal ini sudah ditetapkan dan ditargetkan dalam RPJMD Provinsi Bengkulu tahun 2021-2026 , langkah dan upaya penurunan target ini dituangkan dalam indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan pada RPJMD 2021-2026 melaui kegiatan di Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.

By.Bidang PPKB

Komentar